Monday, October 1, 2018

Kepala Sekolah Bapak Sapriansyah Bangkit Pondok Baca , Tukangi Sendiri

Salut dengan bapak sapriansyah yang berhasil menciptakan pondok baca untuk masa depan bangsa dan menumbuhkan rasa cinta membaca, bapak sapriansyah rela meluangkan waktunya untuk menciptakan Pondok baca.

Pada laman yang dilangsir beritalima.com menandakan bahwa Bapak Sapriansyah menukangi sendiri pembuatan pondok baca tersebut.

“Saya menukangi sendiri pendirian bangunan ini semoga madrasah semakin berkembang dalam segi pembelajaran dan budaya baca,” ungkapnya bersemangat.

Bangunan pondok baca yang berhasil di tegakkan oleh bapak Sapriansyah berada di  Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. MIN 1 Kutai Kartanegara.

Pondok baca yang dibentuk dari bambu sederhana, tripleks dan kayu-kayuan. Tertera di salah satu bangunan itu goresan pena “Pondok Baca”.

Tujuan Pondok Baca ini didirikan semoga bawah umur tertarik membaca. Menyediakan kawasan membaca yang gampang dijangkau dan menarik ialah salah satu seni administrasi madrasah tersebut untuk meningkatkan minat baca siswa.

Seusai pembinaan Manajemen Berbasis Sekolah jadwal PINTAR Tanoto Foundation yang ada diadakan sekitar bulan September, pak Sapriansyah ingin pribadi menerapkan salah satu rencana tindak lanjut di pembinaan tersebut, yaitu mendirikan taman baca. Walaupun sudah berkiprah di madrasah ini selama hampir sepuluh tahun, semangatnya untuk membangun madrasah tetap menyala-nyala. “Saya menukangi sendiri pendirian bangunan ini semoga madrasah semakin berkembang dalam segi pembelajaran dan budaya baca,” ungkapnya bersemangat.

Selama pelatihan, ia ingat bahwa banyak benda-benda bekas di sekolah yang sebetulnya sanggup dimanfaatkan untuk menciptakan taman baca tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Misalnya bambu yang sudah tidak dimanfaatkan lagi sesudah jadwal perkemahan sekolah, tripleks sisa pembangunan mushola dan bahan-bahan lainnya dari bekas pembangunan madrasah.

“Kalau mau membangun budaya baca, harus ada sarana yang mendukung, yang menarik dan menjadi ikon supaya bawah umur tergerak untuk membaca,”ujarnya.

Dengan semangat yang menyala-nyala, sepulang pelatihan, ia pribadi menciptakan desain bangunan taman baca tersebut. Setiap selesai jam sekolah, ia pulang kembali ke rumahnya, sholat, makan dan berganti baju menyerupai buruh kasar, pakai kaos atau baju lain yang tidak lagi menawarkan ia sebagai kepala madrasah. Dibantu oleh sekurit dan cleaning service, ia memotong-motong bambu, menggergaji tripleks dan lain-lain, mewujudkan desain bangunan yang telah ia buat dari jam 2 hingga jam 5.30 sore.

Selama membangun, ia tidak kekurangan bahan-bahan dan juga masakan dan minuman. Para guru ikut menyumbang secara sukarela embel-embel biaya yang dipakai untuk membeli cat, paku, masakan dan minuman selama bekerja. Kepala sekolah sendiri juga sukarela mengeluarkan sebagian uangnya untuk pembelian bahan-bahan.

“Agar bangunan ini menarik anak-anak, maka catnya harus berwarna-warni dan tempatnya musti dingin,” ungkapnya menandakan desainnya. Untuk menghasilkan cat yang berwarna-warni, kepala madrasah membeli tiga warna cat yaitu merah, kuning dan hijau dan kemudian sebagian dioplos untuk menghasilkan warna baru.

Setelah dikerjakan kurang lebih empat hari, dua bangunan pondok baca pun balasannya berdiri. Satunya berbentuk menyerupai balai-balai lesehan dan satunya berbentuk payung dengan beberapa kawasan duduk. Yang menyerupai balai-balai cukup untuk menampung 20 anak.

Ternyata respon siswa memanfaatkan kawasan tersebut baik untuk mencar ilmu maupun membaca sangat luar biasa. “Sangat menggembirakan bagi saya. Ternyata bawah umur tiap ketika berebutan memanfaatkan kawasan tersebut untuk membaca. Para guru juga sering duduk disitu menemani bawah umur membaca,” ujar laki-laki beranak tiga ini sangat besar hati menikmati hasil kerjanya.

Melihat respon itu, ke depan, kepala madrasah akan menukangi tiga lagi model bangunan sejenis, supaya bawah umur tidak berebutan. “Saya akan membangun tiga taman baca lagi,” tekadnya.

Selain diluar kelas, kepala madrasah juga telah memerintahkan para guru menciptakan pojok baca di masing-masing kelas yang diampu. Setiap kelas, oleh karenanya, kini ini sudah mempunyai pojok baca masing-masing. Orang renta siswa juga telah diminta untuk membantu dalam pengadaan buku-buku bacaan.

“Untuk pengadaan buku lebih lanjut, nanti saya juga minta siswa yang akan lulus menyumbangkan buku pada sekolah. Kalau ada 52 anak didik, setidaknya kita sanggup dapatkan buku embel-embel sejumlah itu,” ujarnya.

Pak Sapri merupakan teladan kepala sekolah yang sadar akan pentingnya membangun literasi bagi anak didiknya. Ia mencontohkan pada guru-guru di sekolahnya dengan pribadi berbuat, sehingga guru-guru tergerak untuk melakukan jadwal membaca di kelasnya sendiri-sendiri.

Indonesia ketika ini merupakan negara yang tangkat literasinya sangat rendah. Berdasarkan penelitian dari Central Connecticut University tahun 2016 yang lalu, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti. “Semangat yang pak Sapri lakukan, mesti menular ke banyak orang. Rendahnya minat baca di Indonesia ialah duduk kasus yang serius alasannya menghilangkan potensi pendapatan ekonomi triliunan rupiah. Jika masyarakat Indonesia literate, pendapatan ekonomi pun akan cenderung meningkat dengan pesat,” ujar Mustajib, Communication Specialist Tanoto Foundation Kaltim. sumber : https://beritalima.com/kepala-madrasah-ini-tukangi-sendiri-pembangunan-pondok-baca/
Sumber http://jamuneblog.blogspot.com


EmoticonEmoticon