Showing posts with label Asam dan Basa. Show all posts
Showing posts with label Asam dan Basa. Show all posts

Friday, March 3, 2017

Teori Asam Dan Basa

Pada artikel ini akan dibahas mengenai teori asam dan basa Arrhenius, Bronsted-Lowry, dan Lewis. Artikel ini juga membahas relasi antara ketiga teori asam dan basa tersebut. Selain itu juga dibahas mengenai konsep pasangan konjugasi yakni asam dan basa konjugasinya, atau basa dan asam konjugasinya.

Contoh asam : HCl, H2SO4, H3PO4, CH3COOH

Contoh basa : NaOH, Ca(OH)2, Al(OH)3, NH3

Dari tumpuan di atas terlihat CH3COOH pada tumpuan asam dan NH3 pada tumpuan basa memperlihatkan perbedaan pola dari contoh-contoh yang lain. Sehingga perlu kalian cermati dan alasan-alasan penggolongannya akan dibahas lebih lanjut dalam teori-teori asam dan basa di bawah ini.

Teori asam dan basa Arrhenius

Teori
  • Asam ialah zat yang menghasilkan ion hidrogen ( H+) dalam larutan.
  •  Basa ialah zat yang menghasilkan ion hidroksida (OH-) dalam larutan.
Contoh reaksi larutan asam :

HCl ---> H+ + Cl-

H2SO4 ---> 2 H+ + SO42-

H3PO4 ---> 3 H+ + PO43-

CH3COOH ---> CH3COO- + H+

Contoh reaksi larutan basa :

NaOH ---> Na+ + OH-

Ca(OH)2 ---> Ca2+ + 2 OH-

Al(OH)3 ---> Al3+ + 3 OH-

NH3 + H2O ---> NH4+ + OH-

Penetralan terjadi sebab ion hidrogen (H+) dan ion hidroksida (OH-) bereaksi untuk menghasilkan air.


Dalam reaksi lengkapnya penetralan asam dengan basa atau sebaliknya basa dengan asam akan menghasilkan garam dan air (H2O). Sebagai tumpuan ialah Natrium hidroksida (basa) yang dinetralkan dengan Asam Klorida (asam) sebagai berikut :


Pada reaksi Natrium hidroksida di atas, ion hidrogen dari Asam klorida bereaksi dengan ion hidroksida dari natrium hidroksida menghasilkan air - sejalan dengan teori Arrhenius. Demikian juga pada banyak sekali reaksi penetralan yang lain. Namun ada pengecualian yakni pada kasus Amonia (NH3) yang direaksikan dengan asam klorida sebagai berikut :


Dalam reaksi di atas amonia sama sekali tidak menghasilkan hidroksida (OH-) sehingga reaksi diatas tidak terbentuk air. Kalau begitu mengapa amonia sanggup digolongkan sebagai basa ? hal itu sebab amonia dengan air akan terjadi reaksi sebagai berikut :


Dari reaksi di atas terlihat amonia yang bereaksi dengan air akan menghasilkan ion ammonium (NH4+) dan hidrpksida (OH-).

Teori asam dan basa Bronsted-Lowry

Teori
  • Asam ialah donor proton (ion hidrogen).
  • Basa ialah peserta proton (ion hidrogen).
Hubungan antara teori Bronsted-Lowry dan teori Arrhenius

Teori Bronsted-Lowry tidak berlawanan dengan teori Arrhenius - Teori Bronsted-Lowry merupakan ekspansi teori Arrhenius. Bila dalam teori Arrhenius NaOH digolongkan sebagai basa sebab melepaskan OH- maka dalam teori Bronsted-Lowry NaOH digolongkan sebagai basa sebab OH- yang dihasilkan dalam penguraian NaOH bisa mendapatkan H+ (proton) dan membentuk H2O (air).


Dari citra di atas terlihat yang berfungsi sebagai asam ialah H3O+ (ion hidroksonium) sebab bisa melepaskan/mendonorkan H+ sehingga sehabis melepas H+ berubah senjadi air (H2O). Sedangkan yang berfungsi sebagai basa ialah OH- (ion hidroksida) sebab bisa menerima/akseptor ion H+ sehingga berubah jadi air (H2O).

Dengan teori Bronsted-Lowry ini untuk menandakan bahwa amonia (NH3) berperan sebagai basa dalam reaksi antara amonia dan asam klorida. Kita tidak perlu melihat reaksi antara amonia (NH3) dengan air untuk melihat ion hidroksida yang dihasilkan.


NH3 berperan sebagai asam sebab bisa mendapatkan H+ dan HCl berperan sebagai asam sebab bisa memperlihatkan H+

Pasangan konjugasi

Ketika suatu asam/basa larut dalam air akan terurai menjadi ion-ionnya.

Secara umum asam yang bereaksi dengan air akan menghasilkan H3O+ (ion hidroksonium) yang bermuatan konkret dan sisa asam yang bermuatan negatif (A-). A- sanggup berwujud CH3COO-, Cl-, Br- dll. Dengan reaksi :


Perhatikan reaksi dari kiri ke kanan:

HA ialah asam sebab HA mendonasikan sebuah proton (ion hidrogen) ke air.
Air ialah basa sebab air mendapatkan sebuah proton dari HA.

Akan tetapi ada juga reaksi dari kanan ke kiri antara ion hidroksonium dan ion A-:

H3O+ ialah asam sebab H3O+ mendonasikan sebuah proton (ion hidrogen) ke ion A-.
Ion A- ialah basa sebab A- mendapatkan sebuah proton dari H3O+.

Reaksi reversibel mengandung dua asam dan dua basa. Kita sanggup menganggapnya berpasangan, yang disebut pasangan konjugasi.

HA ialah asam dan A- ialah pasangan basa konjugasinya dan H2O ialah basa dan H3O+ ialah pasangan asam konjugasinya. Atau dengan kata lain suatu asam yang telah melepas H+ akan menjadi basa (sisa asam) dan suatu basa yang telah mendapatkan H+ akan menjadi asam (sisa basa).

Berikut ini ialah reaksi antara amonia dan air yang telah kita lihat sebelumnya:


Mula-mula kita lihat reaksi dari kiri ke kanan terlebih dahulu :

Amonia berlaku sebagai basa sebab amonia (NH3) mendapatkan ion hidrogen dari air dan menghasilkan Ion amonium (NH4+) sebagai asam konjugasinya. Air berlaku sebagai asam sebab melepas ion hidrogen (H+) dan menghasilkan ion hidroksida (OH-) sebagai pasangan basa konjugasinya.

Kemudian kita lihat reaksi dari kanan ke kiri :

ion amonium (NH4+) merupakan asam sebab sanggup melepaskan kembali ion hidrogen tersebut untuk membentuk kembali amonia (NH3) yang bertindak sebagai pasangan basa konjugasinya. Ion hidroksida merupakan basa sebab sanggup mendapatkan ion hidrogen kembali untuk membentuk air yang bertindak sebagai pasangan asam konjugasinya.

Zat amfoter

Kalian mungkin memperhatikan (atau bahkan mungkin juga tidak memperhatikan!) bahwa dalam kedua tumpuan di atas, air berperilaku sebagai basa, tetapi di reaksi yang lain air berperilaku sebagai asam.

Suatu zat yang sanggup berperilaku baik sebagai asam atau sebagai basa digambarkan sebagai amfoter. Zat amfoter ini akan bertindak sebagai basa jika direaksikan dengan asan dan akan bertindak sebagai asam jika direaksikan dengan basa.


Teori asam dan basa Lewis

Teori ini memperluas pemahaman anda mengenai asam dan basa.

Teori
  • Asam ialah peserta pasangan elektron.
  • Basa ialah donor pasangan elektron.
Hubungan antara teori Lewis dan teori Bronsted-Lowry

Basa Lewis

Basa Lewis ialah donor (penyumbang) pasangan elektron. Hal yang paling gampang untuk melihat relasi tersebut ialah dengan meninjau dengan sempurna mengenai basa Bronsted-Lowry, berdasarkan Bronsted-Lowry suatu zat disebut basa ketika bisa mendapatkan ion hidrogen. Tiga tumpuan basa berdasarkan Bronsted-Lowry ialah ion hidroksida, amonia dan air (saat direaksikan dengan asam), dan ketiganya bersifat khas.





Teori Bronsted-Lowry menyampaikan bahwa ketiganya berperilaku sebagai basa sebab ketiganya bergabung dengan ion hidrogen. Tapi Teori Lewis mempunyai alasan tersendiri kenapa ketiga2nya sanggup digolongkan sebagai basa. Alasan ketiganya bergabung dengan ion hidrigen ialah sebab ketiganya mempunyai pasangan elektron sanggup bangkit diatas kaki sendiri – dan kedua teori itu sama2 terbukti kebenarannya sesuai dengan citra di atas.

Asam Lewis

Asam Lewis ialah peserta pasangan elektron. Dalam tumpuan reaksi2 basa di atas jika OH-, NH3 dan H2O berperan sebagai basa maka H+ yang mendapatkan pasangan elektronnya disebut sebagai asam. Untuk lebih memudahkan hal ini perhatikanlah reaksi berikut :


Dalam reaksi di atas amonia (NH3) yang menyumbangkan pasangan elektron bertindak sebagai basa sedangkan BF3 yang mendapatkan pasangan elektron bertindak sebagai asam. Pada teori Bronsted-Lowry, BF3 tidak sedikitpun disinggung menganai keasamannya.

Bagaimana dengan reaksi asam basa yang gampang terdefinisikan dengan Teori Bronsted-Lowry, sebagai contoh, reaksi antara amonia dan gas hidrogen klorida?


Yang niscaya telah kita pahami ialah nitrogen sebagai penyumbang pasangan elektron. Buku teks sering kali menuliskan wacana hal ini, yakni amonia mendonasikan pasangan elektron sanggup bangkit diatas kaki sendiri yang dimilikinya pada ion hidrogen, sebagai proton sederhana dengan tidak adanya elektron disekelilingnya (H+).

Ini ialah sesuatu hal yang menyesatkan! Dalam sistem kimia ion hidrogen bebas sangatlah sedikit. Hal ini sebab ion hidogen sangat reaktif dan selalu tertarik pada yang lain. Tidak terdapat ion hidrogen yang tidak bergabung dalam HCl.

Kalau begitu mengapa HCl ialah suatu asam Lewis?

Klor lebih elektronegatif dibandingkan dengan hidrogen, ini berarti bahwa hidrogen klorida akan menjadi molekul polar. Elektron pada ikatan hidrogen-klor akan tertarik ke sisi klor, menghasilkan hidrogen yang bersifat sedikit konkret dan klor sedikit negatif.


Pasangan elektron sanggup bangkit diatas kaki sendiri pada nitrogen yang terdapat pada molekul amonia tertarik ke arah atom hidrogen yang sedikit konkret pada HCl. Setelah pasangan elektron sanggup bangkit diatas kaki sendiri milik nitrogen mendekat pada atom hidrogen, elektron pada ikatan hidrogen-klor tetap akan tertarik ke arah klor. Akhirnya, ikatan koordinasi terbentuk antara nitrogen dan hidrogen, dan ikatan hidrogen-klor terputus keluar sebagai ion klorida.





Sumber http://mediabelajaronline.blogspot.com

Thursday, March 2, 2017

Reaksi Asam Dan Basa

Setelah kita mempelajari teori perihal asam dan basa, kini kita beralih mempelajari lebih dalam perihal reaksi2 dalam asam dan basa.

ASAM
ialah zat/senyawa yang dalam air sanggup melepaskan ion hidrogen (H+) atau ion hidronium (H3O+).

Sifat asam :
  • rasanya masam
  • merusak/melarutkan logam (korosif)
  • memerahkan kertas lakmus biru
  • pH kurang dari 7
Contoh :

1. Asam Non-Oksi

Asam Klorida        :   HCl  --->  H+  +  Cl-

Asam Bromida     :   HBr  --->  H+  +  Br-

Asam Sianida       :   HCN --->  H+  +  CN-

Asam Sulfida        :   H2S  --->  2 H+  +  S2-

2. Asam Oksi

Asam Nitrat          :   HNO3  --->  H+  +  NO3-

Asam Sulfat          :   H2SO4 --->  2 H+  +  SO42-

Asam Karbonat    :   H2CO3 --->  2 H+  CO32-

Asam Phospat      :   H3PO4  --->  3 H+  +  PO43-

3. Asam Organik

Asam Asetat          :   CH3COOH  --->   H+  +  CH3COO- 

Asam Format         :   HCOOH   --->   H+  +  HCOO-

Asam Oksalat         :   H2C2O4   --->  H+  +  C2O42-


BASA
ialah zat/senyawa yang dalam air sanggup melepaskan ion (OH-).

Sifat Basa  :
  • rasanya pahit
  • membakar (kaustik)
  • licin menyerupai sabun
  • membirukan kertas lakmus merah
  • pH lebih dari 7
Contoh  :

Natrium Hidroksida           :   NaOH   --->   Na+  +  OH-

Kalsium Hidroksida            :   Ca(OH)2   --->   Ca2+  +  2 OH-

Ferro Hidroksida                 :   Fe(OH)2   --->   Fe2+  + 2 (OH)-
(Besi (II) Hidroksida)

Ferri Oksida                          :   Fe(OH)3   --->   Fe3+  +  3 (OH)-             
(Besi (III) Hidroksida)

Ammonium Hidroksida   :   NH4OH   --->   NH4+  +  OH

contoh2 diatas ialah teladan zat yang digolongkan sebagai asam atau basa....tentu saja mustahil ditampilkan semua ( alasannya terlalu banyak...)

Tata nama dalam asam

pada prinsipnya  :   Hidrogen (H+)  +  Anion =  asam ; 

dengan nama  "Asam +  nama anion"

keterangan           :

   banyaknya  Hidrogen (H+) dalam satu molekul = muatan anion pasangannya

Contoh                   :   

2 H+  +  SO42-  --->   H2SO4  ;  dengan nama Asam Sulfat

dalam teladan di atas diharapkan 2 ion hidrogen (H+) alasannya muatan SO42-  = -2 jadi supaya total muatannya = 0 maka ion hidrogen yang muatannya = +1 dikalikan 2


Tata nama dalam basa

pada prinsipnya  :   kation  +  Hidroksida (OH)  =  basa ; 

dengan nama "nama kation +  hidroksida"

keterangan           :

banyaknya  Hidroksida (OH-) dalam satu molekul = muatan anion pasangannya

Contoh                   :

Al3+  +  3 OH-  --->   Al(OH)3 ;  dengan nama Alumunium Hidroksida

alasannya muatan Al = +3 maka OH- yang diharapkan untuk mengakibatkan muatan totalnya = 0 ialah -3, nilai -3 diperoleh dari OH- sebanyak 3 buah.....karena muatan OH- = -1 maka supaya menjadi -3 perlu dikalikan 3

ASAM / BASA LEMAH DAN KUAT

Kekuatan asam atau basa ditentukan oleh kemampuan senyawa tersebut untuk menghasilkan ion H+  (untuk asam) atau OH- (untuk basa). semakin banyak ion H+  dan OH- yang dihasilkan maka kekuatan asam atau basanya semakin kuat.

ASAM KUAT DAN LEMAH

Asam Kuat
merupakan elektrolit kuat, di dalam air akan terionisasi tepat menjadi ion2 penyusunnya. asam berpengaruh memiliki derajad dissosiasi = 1. derajad dissosiasi dirumuskan  :


besar derajad dissosiasi = 1 mengatakan semua zat yang direaksikan terurai menjadi ion2nya.

HnA   --->   n H+  +  An-

Keterangan  : 
n = jumlah ion H dalam molekul = muatan anionnya

Asam Lemah

tidak menyerupai asam kuat, asam lemah digolongkan dalam elektrolit lemah.....hal ini alasannya tidak semua zat yang bereaksi terurai menjadi ion2nya namun hanya sebagian kecil saja. untuk mengatakan besarnya zat yang terurai memakai derajad dissosiasi.


Jika kalian perhatikan reaksi umum dalam asam lemah sama saja dengan reaksi asam kuat....hanya saja reaksi dalam asam lemah berlangsung 2 arah, 

arah pertama = reaksi dari kiri ke kanan, terjadi peruraian zat asam menjadi ion2nya
arah kedua      = reaksi dari kanan ke kiri, terjadi penggabungan ion2 menjadi zat penyusunnya

kedua reaksi di atas terjadi terjadi bersamaan hingga konsentrasi zat asam dan hasil peruraiannya tidak berubah2 lagi. yang sering dikenal dengan titik setimbang / eqivalen. Saat terjadinya titik eqivalen inilah besarnya derajad dissosiasi sanggup dicari. dan sebalikknya bila besarnya derajad dissosiasi diketahui maka jumlah ion H+  yang terbentuk dapa diketahui....



dari reaksi diatas sanggup diketahui besarnya H+ yang terurai dipengaruhi oleh Konsentrasi asam (X), banyaknya ion H+ dalam satu senyawa dan derajad dissosiasi.

Tetapan Dissosiasi Asam (Ka)

Setelah kita mengenal istilah derajad dissosiasi selanjutnya kita bahas mengenai tetapan dissosiasi atau sering disebut sebagai Ka. Harga Ka diperoleh dari  :

HnA   --->   n H+  +  An-



Contoh Asam Kuat dan Lemah

Asam Kuat  : HCl, H2SO4, HNO3, H3PO4, HClO4 dll

Asam Lemah : CH3COOH, C2H5COOH, HCN, HCOOH, H2C2O4, H2S, H2CO3, HF dll

dengan alasan jumlah dan variasi asam lemah jauh lebih banyak dari asam berpengaruh maka asam berpengaruh lebih diprioritaskan untuk dihafalkan..... suatu bila tidak tergolong dalam asam berpengaruh maka tergolong dalam asam lemah.

BASA KUAT DAN LEMAH

Basa kuat

menyerupai halnya asam kuat....basa berpengaruh merupakan elektrolit kuat, di dalam air akan terionisasi tepat menjadi ion2 penyusunnya. sehingga besarnya derajad dissosiasi = 1 (semua zat yang direaksikan terurai menjadi ion2 penyusunnya)


Basa Lemah

merupakan elektrolit lemah sehingga hanya terurai sebagian dan besarnya derajad dissosiasi diantara 0 hingga dengan 1.



Tetapan Dissosiasi Basa (Kb)



Contoh Basa Kuat dan Lemah

Basa Kuat : KOH, NaOH, Ca(OH)2 dll

Basa Lemah : NH3 atau NH4OH, Fe(OH)2, Fe(OH)3, Al(OH)2 dll

dengan alasan yang sama dengan cara penghafalan dalam asam maka jenis basa yang dihafal diprioritaskan yang basa kuat....karena jumlah dan variasi basa lemah jauh lebih banyak. Kaprikornus suatu basa bila tidak tergolong dalam basa berpengaruh maka secara otomatis digolongkan sebagai basa lemah.


Reaksi Asam dan Basa
1. Reaksi Penetralan

Jika larutan asam san larutan basa direaksikan maka terjadi reaksi penetralan, yaitu reaksi yang saling meniadakan sifat asam dan basa yang menghasilkan garam dan air.

Contoh :

Asam   +   Basa   --->   Garam   +   Air
HnA   +   B(OH)m --->   BnAm   +   H2O

Asam Phospat direaksikan dengan Kalsium Hidroksida akan terjadi reaksi penetralan sebagai berikut :

H3PO4    +   Ca(OH)2   --->   ???

coba kalian perhatikan Asam yang bereaksi di atas.....yakni H3PO4, PO4 ialah suatu anion (ion negatif) sehingga sanggup berpasangan dengan Kation (ion positif) H+ yang bermuatan +1. Agar kita tahu muatan dari PO4 maka kita hitung jumlah H+ yang diharapkan untuk membentuk senyawa H3PO4........Ya....,ada 3 ion H dan alasannya muatan satu ion H = +1 maka muatan  total ion H = + 3. Sehingga untuk menetralkan muatan (menjadikan muatan totalnya = 0) membutuhkan muatan sebesar  -3.....dengan memperhatikan jumlah PO4 dalam senyawa....yakni 1 ion PO4 maka dipastikan muatan PO4 ialah -3. Hal ini berarti muatan PO4 sanggup kita lihat dari jumlah ion H dalam senyawa asam yakni sebesar -3 (muatan negatif mengatakan PO4 ialah suatu anion).
dengan cara yang sama, dalam senyawa basa Ca(OH)2.....dapat kita lihat 1 ion Ca membutuhkan ion OH- sebanyak 2 ion (sehingga muatan total OH- = -1.2 = -2) maka muatan ion Ca = +2 (muatan konkret mengatakan Ca ialah kation sehingga sanggup bereaksi dengan anion yakni OH-)
Setelah kita tahu muatan PO4 ialah -3 dan muatan Ca ialah +2......agar muatan gabungan PO4 dengan Ca = 0 maka kita membutuhkan 2 ion PO4 dan 3 ion Ca, sehingga reaksi di atas menjadi :

2 H3PO4    +   3 Ca(OH)2   --->   ???

 Garam yang terbentuk sesuai dengan jumlah masing2 ion yang dibutuhkan.......yakni butuh 2 ion PO4 dan 3 ion Ca, sehingga membentuk garam Ca3(PO4)2 :

2 H3PO4    +   3 Ca(OH)2   --->   Ca3(PO4)2   +    6 H2O

langkah terakhir tinggal menghitung koefisien air (H2O) yang terbentuk dari reaksi di atas...yakni 6 H2O. angka 6 diperoleh dari prinsip penyetaraan reaksi yang berbunyi jumlah atom2 sejenis pada ruas kiri (sebelum reaksi) harus sama dengan ruas kanan (setelah reaksi). Pada ruas kiri sanggup kita hitung jumlah atom H ada 12 (dari 2 H3PO4 ada 2.3 = 6 dan dari Ca(OH)2 ada 3.2 = 6 sehingga totalnya ada 12). sehingga atom H di ruas kanan....yakni dalam H2O harus kita kalikan dengan 6 supaya jumlah atom H nya sama2 sebanyak 12.

Rumitkah klarifikasi di atas ??

Cara penyelesaian reaksi di atas ialah cara khusus bagi kalian yang tidak hafal muatan2 tiap kation dan anion......maka alangkah baiknya kalau segera kalian hafal.
Bagi yang sudah hafal bahwa muatan PO4 ialah -3 sehingga bentuk ionnya = PO43- dan muatan Ca adalan +2 sehingga bentuk ionnya = Ca2+ dan supaya muatannya seimbang butuh 2 ion PO43- dan 3 ion Ca2+ sehingga garam yang terbentuk ialah Ca3(PO4)2  dengan reaksi :

H3PO4    +   Ca(OH)2   --->   Ca3(PO4)2   +   H2O

selajutnya tinggal kita setarakan jumlah tiap2 atom di ruas kiri dan kanan......pada prinsipnya yang kalian setarakan ialah atom2 selain H dan O terlebih dahulu, sesudah itu gres kalian setarakan H kemudian yang terakhir ialah atom O.

2 H3PO4    +   3 Ca(OH)2   --->   Ca3(PO4)2   +    6 H2O

2. Reaksi Oksida Asam dan Oksida Basa

Oksida asam ialah oksida bukan logam yang ketika bereaksi dengan air membentuk asam.

CO2   +   H2O   --->   H2CO3
SO2   +   H2O   --->   H2SO3
SO3   +   H2O   --->   H2SO4
N2O3  +  H2O   --->   2 HNO2
N2O5  +  H2O   --->   2 HNO3
P2O5   +  H2O   --->  2 H3PO4
Oksida asam akan bereaksi dengan larutan basa membentuk garam dan air

 CO2   +   2 NaOH   --->   Na2CO3   +   H2O
N2O5  +  Ca(OH)2 --->   Ca(NO3)2  +  H2O
Oksida basa ialah oksida logam yang ketika bereaksi dengan air akan menghasilkan basa

Na2O   +   H2O     --->    2 NaOH
K2O     +     H2O     --->   2 KOH
CaO     +     H2O     --->   Ca(OH)2
Al2O3   +  3 H2O   --->    2 Al(OH)3
FeO     +     H2O     --->   Fe(OH)2
Fe2O3  +  3 H2O   --->    2 Fe(OH)3

Oksida basa akan bereaksi dengan larutan asam membentuk garam dan air

Na2O   +   H2SO4   --->   Na2SO4   +   H2O
Fe2O3   +   HNO3   --->   2 Fe(NO3)3   +  3 H2O

3. Reaksi yang menghasilkan Endapan

Untuk mengetahui suatu reaksi menghasilkan endapan atau tidak....ada dua cara. Cara pertama memakai tabel kelarutan (dengan menghitung nilai perbandingan Ksp dengan Qsp nya). Cara kedua dengan menghafalkan sifat pencampuran ion2 menyerupai teladan di bawah ini :


Contoh :

BaCl2(aq) +  Na2SO4(aq)  --->   BaSO4(s) + 2NaCl (aq)

Reaksi Ion (larutan elektrolit terurai menjadi ion2nya dan yang mengendap tidak diuraikan)

Ba2+(aq) + 2Cl-(aq) + 2Na+(aq) + SO42-(aq) ---> BaSO4(s) + 2Na+(aq) + 2Cl-(aq)

Reaksi ion bersihnya (ion2 yang sama di ruas kiri dan kanan dihilangkan)

Ba2+(aq) + SO42-(aq) ---> BaSO4(s)

3. Reaksi yang menghasilkan Gas

 a. Reaksi yang menghasilkan gas CO

CaCO3(s) + 2HCl(aq) ---> CaCl2(s) + H2O(l)  + CO2(g)

Na2CO3(s) + H2SO4(aq) ---> Na2SO4(aq) + H2O(l)  + CO2(g)

Kedua reaksi di atas bahwasanya menghasilkan H2CO3 akan tetapi segera terurai menjadi H2O(l)  dan CO2(g)

b. Reaksi yang menghasilkan gas NH3

NH4Cl(s) +  KOH(aq) ---> KCl(aq) +  H2O(l)  + NH3(g)

reaksi di atas bahwasanya menghasilkan NH4OH akan tetapi segera terurai menjadi H2O(l)  dan NH3(g)

c. Reaksi yang menghasilkan gas H2S

FeS(s) + H2SO4 ---> FeSO4 + H2S

4. Reaksi Logam dengan Asam Kuat

Logam + Asam Kuat  --->  Garam  +  gas Hidrogen

Ca(s) + 2HCl(aq) ---> CaCl2(s) + H2O(g)

Na(s) + H2SO4(aq) ---> Na2SO4(aq) + H2(g)

Cu(s) + H2SO4(aq) --->  tidak terjadi reaksi

Ingat!! deret kereaktifan logam ---> Unsur dalam deret yang di sebelah kanan   tidak bisa menggeser unsur yang di sebelah kirinya......

Li - K - Ba - Ca - Na - Mg - Al - Zn -Cr - Fe - Ni - Sn - Pb - (H) - Cu - Hg - Ag - Pt - Au

letak Cu berada di sebelah kanan H sehingga tidak sanggup menggeser/menggantikannya......

Sumber http://mediabelajaronline.blogspot.com