Showing posts with label Kerajaan. Show all posts
Showing posts with label Kerajaan. Show all posts

Monday, February 20, 2017

Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Sosial, Ekonomi, Politik, Dan Sistem Pemerintahan

Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang telah ditemukan ibarat prasasti, isu dari China, dan benda-benda peninggalan lainnya, beberapa hebat telah memperkirakan ihwal bagaimana sejarah kerajaan tarumanegara di masa lalu, mulai dari sistem pemerintahan, kehidupan politik, kehidupan sosial-budaya, kehidupan ekonomi, dan keagamaannya. Nah, berikut ini, kita akan membahas sejarah Kerajaan Tarumanegara tersebut secara lebih detail sesuai dengan pendapat para ahli.

Sistem Pemerintahan dan Kehidupan Politik

Berdasarkan pesan yang tersurat pada Prasasti Tugu dan beberapa prasasti lain, diketahui bahwa Raja Purnawarman ialah raja besar yang dinyatakan cukup berhasil dalam kepemimpinannya. Ya, Prasasti Tugu menyatakan bahwa raja Purnawarman telah membangun sebuah sungai untuk irigasi dan pencegahan banjir itu tentu mencerminkan raja Kerajaan Tarumanegara satu ini sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya.

bukti sejarah yang telah ditemukan ibarat prasasti Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Sosial, Ekonomi, Politik, dan Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan dan kehidupan politik Kerajaan Tarumanegara juga diceritakan dalam Prasasti Pasir Muara. Dalam Prasasti tersebut diketahui bahwa pada tahun 536 M telah terjadi pengembalian pemerintahan dari Tarumanegara ke Kerajaan Sunda. Di tahun tersebut, raja kerajaan Tarumanegara yang berkuasa ialah Suryawarman (raja ke-7). Untuk mengetahui bagaimana sistem pemerintahan Kerajaan Tarumanegara secara lebih detail, Anda sanggup mengunjungi link ini.

Kehidupan Ekonomi Kerajaan Tarumanegara

Kehidupan ekonomi Kerajaan Tarumanegara diketahui dari adanya sumber sejarah, baik yang berupa prasasti atau dari berita-berita Cina. Berdasarkan Prasasti Tugu yang menceritakan pembangunan Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman misalnya, diperoleh citra bahwa masyarakat kerajaan Tarumanegara mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian utama.

bukti sejarah yang telah ditemukan ibarat prasasti Sejarah Kerajaan Tarumanegara: Sosial, Ekonomi, Politik, dan Sistem Pemerintahan
Gambaran pendapat sejarah Kerajaan Tarumanegara dalam kehidupan ekonomi tersebut diperkuat pula oleh isu dari Fa-Hien. Pedagang China tersebut menyebut dalam buku catatannya jikalau dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat Kerajaan Tarumanegara bekerja sebagai petani, peternak, dan pemburu binatang. Selain itu, perdagangan juga menjadi sektor penting dalam kehidupan ekonomi Kerajaan Tarumanegara. Perdagangan cula badak, perak, dan kulit penyu telah dilakukan pada masa itu.

Kehidupan Sosial, Budaya, dan Keagamaan

Terkait dengan kehidupan sosial, masuknya efek agama dan kebudayaan Hindu telah memegang penting dalam sejarah kerajaan Tarumanegara. Pengaruh itu antara lain dikenalnya sistem dewa-dewi, mitologi, bahasa dan sastra, serta upacara-upacara keagamaan. Salah satu bukti efek ini sanggup kita temukan pada isi prasasti Kebon Kopi I. Dalam prasasti ini  dua kaki gajah Airwata terpahat dengan sangat jelas. Gajah Airwata sendiri dalam mitologi Hindu dikenal sebagai gajah tunggangan Batara Indra. Nama gajah ini dalam prasasti tersebut juga telah dijadikan sebagai nama gajah perang milik Raja Purnawarman.
Demikianlah sedikit pemaparan mengenai sistem pemerintahan, kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya dan keagamaan Kerajaan Tarumanegara. Semoga sanggup memberi sedikit citra mengenai sejarah kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Hindu pertama di Pulau Jawa.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Saturday, February 4, 2017

6 Peninggalan Sejarah Islam Di Indonesia Beserta Gambarnya

Peninggalan Sejarah Islam Di Indonesia - Sejak agama dan kebudayaan Islam memasuki Indonesia, terjadilah proses Islamisasi terhadap masyarakat di nusantara. Bersamaan dengan proses Islamisasi itu, mulailah terjadi perubahan sosial budaya ke arah pembentukan budaya gres yang bernafaskan Islam.  Seperti diketahui bahwa, sebelum kedatangan agama dan kebudayaan Islam, budaya Indonesia masih bercorak Hindu dan Budha, namun seiring dengan masuknya budaya Islam ke Indonesia, proses integrasi budaya Hindu - Budha dengan kebudayaan Islam pun menjadi tidak sanggup dihindarkan.

Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia

Perlu diketahui bahwa, dalam proses integrasi budaya tersebut, tidak terjadi ketegangan yang berarti meskipun ada 3 unsur agama dan kebudayaan yang saling berbeda di dalamnya. Hal ini disebabkan lantaran tokoh-tokoh Islam pada masa itu tidak bersikap memusuhi, dan justru bersifat saling merangkul. Adapun dalam proses integrasi tersebut, beberapa peninggalan sejarah sanggup kita lihat sebagai buktinya sampai kini. Apa saja peninggalan sejarah Islam di Indonesia tersebut? Simak uraiannya berikut ini!

 Sejak agama dan kebudayaan Islam memasuki Indonesia 6 Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia beserta Gambarnya

1. Masjid

Salah satu peninggalan sejarah Islam di Indonesia yang paling banyak ditemukan sampai sekarang yaitu masjid. Seperti diketahui bahwa masjid merupakan tempat ibadah bagi umat Islam, sehingga masuk akal bila seni arsitektur Islam satu inilah yang paling gampang kita lihat keberadaannya ketika ini.

Adapun terkait dengan kentalnya budaya Hindu dan Budha di masa awal penyebaran Islam di Indonesia, seni arsitektur masjid juga dipengaruhi oleh akulturasi budaya lokal yang ada ketika itu. Berbeda dengan masjid-masjid di Jazirah Arab, arsitektur masjid di Indonesia mempunyai beberapa keunikan. Keunikan tersebut terletak pada susunan atapnya yang berundak dan berbentuk limas, adanya bangunan serambi (pendopo), adanya mihrab atau tempat imam memimpin sholat, serta wujud masjid yang umumnya berbentuk bujur sangkar.

Pada tabel berikut, terdapat beberapa pola masjid peninggalan sejarah Islam di Indonesia pada masa silam.
No Nama Lokasi Peninggalan
1. Masjid Agung Demak Demak, Jateng Abad 14 M
2. Masjid Ternate Ternate, Ambon Abad 14 M
3. Masjid Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur Abad 15 M
4. Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh Banda Aceh, DI Aceh Abad 15 M
5. Masjid Kudus Kudus, Jateng Abad 15 M
6. Masjid Banten Banten, Banten Abad 15 M
7. Masjid Cirebon Cirebon, Jawa Barat Abad 15 M
8. Masjid Katangga Katangga, Sulawesi Utara Abad 16 M

2. Kaligrafi

Selain masjid, peninggalan sejarah Islam di Indonesia yang masih sanggup kita jumpai sampai sekarang yaitu seni kaligrafi. Bagi Anda yang belum tahu, kaligrafi yaitu suatu seni menulis abjad Arab dengan gaya dan susunan yang indah. Tulisan Arabnya sendiri umumnya diambil dari potongan surat atau ayat-ayat dalam Al Quran.

 Sejak agama dan kebudayaan Islam memasuki Indonesia 6 Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia beserta Gambarnya
Seni kaligrafi yang menjadi peninggalan sejarah Islam di Indonesia pada masa silam sanggup kita temukan sebagai hiasan ukir atau tulis contohnya pada dinding masjid, gapura, atau pada kerikil nisan. Contoh beberapa seni kaligrafi pada kerikil nisan contohnya terdapat pada makam beberapa orang berikut ini.
No Makam dari Lokasi Peninggalan
1. Fatima binti Maimun Gresik, Jawa Timur Abad 13 M
2. Ratu Nahrasiyah Samudra Pasai Abad 14 M
3. Maulana Malik Ibrahim Gresik, Jawa Timur Abad 15 M
4. Sunan Giri Gresik, Jawa Timur Abad 15 M
5. Sunan Gunung Jati Cirebon, Jawa Barat Abad 15 M
6. Sunan Kudus dan Sunan Muria Kudus, Jawa Tengah Abad 15 M
7. Sunan Kalijaga Demak, Jawa Tengah Abad 15 M
8. Makam raja-raja Banten Imogiri Abad 16 M

3. Keraton atau Istana

Keraton atau istana yang merupakan tempat tinggal bagi raja dan keluarganya gotong royong telah ada semenjak jaman imbas kebudayaan Hindu dan Budha. Hanya saja, sesudah Islam masuk, arsitektur keraton menjadi lebih banyak dipengaruhi oleh gaya arsitektur Timur Tengah. Beberapa keraton peninggalan sejarah Islam di Indonesia tersebut yang sampai sekarang masih terawat contohnya Istana Kesultanan Ternate, Istana Kesultanan Tidore, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kesultanan Aceh, Istana Sorusuan, Istana Raja Gowa Keraton Kasultanan, dan Keraton Pakualaman.

4. Kitab dan Kesusastraan

Peninggalan sejarah Islam di Indonesia bukan hanya sanggup ditemukan dalam bentuk seni dan gaya arsitektur. Kesusatraan juga berkembang cukup pesat sesudah masuknya pengaruh agama Islam di Indonesia. Kesusastraan tersebut tertuang dalam bentuk suluk, hikayat, babad, dan syair. Beberapa peninggalan kesusastraan Islam di Indonesia antara lain syair Perahu karya Hamzah Fansuri, syair Si Burung Pingai, syair Abdul Muluk, syair gurindam dua belas karya Ali Haji, hikayat nabi-nabi, hikayat sultan-sultan Aceh, dan hikayat klarifikasi penciptaan langit dan bumi.

5. Pesantren

Sejak masuknya Islam di Indonesia, pesantren telah menjadi forum pendidikan agama yang telah melahirkan banyak mubaligh. Pesantren dianggap sebagai salah satu peninggalan sejarah Islam di Indonesia lantaran dianggap turut berperan serta dalam kemajuan syiar Islam Nusantara.

Pesantren di Indonesia pertama kali dibangun pada masa kekuasaan Prabu Kertawijaya dari Majapahit. Pesantren yang didirikan di kawasan Jawa oleh Sunan Ampel ini lalu melahirkan banyak orang-orang terpelajar. Para santri diajari perihal banyak hal menyerupai bahasa Arab, pendalaman Al Quran, kitab Kuning, tauhid, fiqih, akhlak, dan tasawuf.

Beberapa pesantren besar yang ada di Indonesia antara lain Pesantren Lasem di Rembang, Pesantren Tebuireng di Jombang, Pesantren Asembagus di Situbondo, Pesantren Lirboyo di Kediri, Al-Kautsar Medan, dan Pesantren As-Shiddiqiyyah di Jakarta.

 Sejak agama dan kebudayaan Islam memasuki Indonesia 6 Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia beserta Gambarnya

6. Tradisi

Beberapa tradisi yang sampai sekarang masih dipakai sebagian masyarakat Islam menyerupai ziarah, sedekah, atau upacara budpekerti Jawa sekaten juga merupakan bukti peninggalan sejarah Islam di Indonesia yang tak sanggup dilupakan begitu saja. Tradisi-tradisi tersebut lahir lantaran imbas Islam yang berakulturasi dengan kebudayaan lokal masyarakat ketika itu.

Nah, itulah beberapa peninggalan sejarah Islam di Indonesia yang masih sanggup kita temukan sampai ketika ini. Adanya peninggalan-peninggalan sejarah tersebut menandakan bahwa hadirnya Islam di nusantara bukan hanya mempengaruhi dogma dan agama masyarakat, melainkan juga seluruh aspek kehidupan. Semoga bermanfaat.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Friday, February 3, 2017

7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, Dan Gambarnya

Agama Budha yang masuk ke Indonesia semenjak masa ke 2 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam. Selain mengubah kepercayaan penduduk Indonesia yang awalnya animisme dan dinamisme menjadi percaya pada pemikiran Sidharta Gautama, agama Budha juga telah berhasil merubah aspek-aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya Indonesia. Terkait dengan kehidupan berbudaya, agama Budha telah meninggalkan beberapa bangunan bernilai historis tinggi berupa candi-candi yang sekarang tersebar di pelosok Jawa dan Sumatera. Berikut ini kami akan membahas beberapa candi peninggalan agama Budha tersebut disertai gambar-gambarnya sebagai materi pembelajaran untuk Anda.

Candi Peninggalan Agama Budha

Candi peninggalan agama Budha sanggup diidentifikasi dari beberapa ciri yang membedakannya dengan candi Hindu. Ciri-ciri tersebut sanggup kita lihat mulai dari adanya stupa pada puncak candi, terdapatnya arca Budha, adanya relief yang mengkisahkan pemikiran Budha, dan bentuk bangunannya yang bertingkat.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya

1. Candi Borobudur

Candi Borobudur yaitu candi peningalan agama Budha yang sudah tersohor sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Candi ini terletak di Magelang, Jawa Tengah tepatnya berada 100 km arah Barat Daya kota Semarang atau 40 km arah Barat Laut kota Yogyakarta. Candi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 800-an Masehi pada masa wangsa Sailendra dari kerajaan Mataram ini berbentuk punden berundak dengan 9 tingkatan, dimana 6 tingkat bab bawah berbentuk bujur sangkar, sedang 3 tingkat di atasnya berbentuk bundar.


2. Candi Mendut

Candi peninggalan agama Budha selanjutnya yaitu Candi Mendut. Candi ini terletak di Kecamatan Mungkid, Magelang-Jawa Tengah. Candi Mendut diperkirakan dibentuk pada 824 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Indra di dinasti Syailendra. Arkeolog Belanda, J.G. de Carparislah yang menemukan jejak keberadaan candi ini pertama kali pada tahun 1908.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya

3. Candi Ngawen

Candi Ngawen merupakan sebuah candi Budha yang terletak di desa Ngawen, Muntilan, Magelang. Berdasarkan perkiraan, candi Ngawen dibangun pada masa kekuasaan wangsa Syailendra atas Kerajaan Mataram Kuno. J.G. de Carparislah, seorang arkeolog Belanda meyakini kalau candi Ngawen ini yaitu candi yang disebutkan dalam prasasti Karang Tengah sebagai candi suci berjulukan veluvana.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya

4. Candi Lumbung

Candi Lumbung terletak di kompleks Taman Wisata Candi Prambanan, tepatnya berada di sebelah candi Bubrah. Berdasarkan perkiraan, candi ini dibentuk pada masa ke-9 Masehi di masa Kerajaan Mataram Kuno. Candi Lumbung yaitu kumpulan dari suatu kompleks candi utama bertema candi Buddha yang cukup banyak dikunjungi para wisatawan mancanegara.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya

5. Candi Banyunibo

Candi Banyunibo yaitu candi peninggalan agama Budha yang berdiri kokoh tidak jauh dari kompleks Candi Ratu Boko. Candi yang diperkirakan dibangun pada masa ke 9 Masehi ini mempunyai sebuah stupa di bab atasnya yang merupakan ciri khas dari candi bercorak Budha.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya

6. Candi Muara Takus

Candi Muara Takus merupakan satu-satunya candi peninggalan agama Budha yang berada di luar Jawa. Candi ini terletak di desa Muara Takus, Riau-Indonesia, tepatnya berada 134 km arah Barat kota Pekanbaru. Di dalam kompleks candi ini, terdapat pula bangunan Candi Bungsu, Candi Tua, dan Mahligai Stupa. Bahan utama pembuatan bangunan candi ini ternyata berbeda dengan candi-candi yang ada di Pulau Jawa. Ia terbuat dari materi kerikil sungai, kerikil pasir, dan kerikil bata.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya

7. Candi Brahu

Candi Brahu yaitu candi peninggalan agama Budha yang pada masa lampau dipakai sebagai kawasan pembakaran (krematorium) mayat raja-raja Kerajaan Brawijaya. Dalam prasasti Alasantan, candi yang didirikan pada masa 10 Masehi ini disebut sebagai bangunan suci umat Budha. Kendati demikian tak menyerupai candi-candi peninggalan agama Budha lainnya, candi ini tidak dilengkapi satu stupa-pun dalam bangunannya.

 Masehi telah banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam 7 Candi Peninggalan Agama Budha, Keterangan, dan Gambarnya
Nah, itulah beberapa pola candi peninggalan agama Budha yang terdapat di Jawa dan Sumatera. Sebetulnya masih banyak candi Budha lainnya yang belum dibahas dalam posting ini. Candi-candi tersebut contohnya Candi Bahal (Tapanuli Selatan-Sumut), Candi Pawon (Magelang-Jateng), Kompleks Candi Muaro Jambi (Muaro Jambi-Jambi), Percandian Batujaya (Karawang-Jabar), Candi Plaosan (Prambanan-Yogyakarta), Candi Sari (Yogyakarta), Candi Sojiwan (Klaten-Jateng), Candi Sumberawan (Malang-Jatim), dan Candi Sewu (Prambanan-Yogyakarta). Untuk menemukan klarifikasi lanjut mengenai candi-candi tersebut Anda sanggup mengunjungi link ini.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Thursday, February 2, 2017

3 Ilahi Tertinggi Agama Hindu, Trimurti, Dan Urutannya

Dewa Tertinggi Agama Hindu - Konsep ketuhanan dalam agama Hindu mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan konsep ketuhanan agama-agama lain. Dalam agama hindu, Tuhan atau sering disebut pula dengan nama Narayana, Iswara, dan Shang Hyang Widhi (Indonesia), dianggap sebagai satu dzat yang berkuasa mutlak, tak berwujud, dan kekal. Tuhan yang Tunggal dalam Hindu mempunyai manifestasi terhadap eksistensi para yang kuasa di kahyangan (suargaloka). Dewa dianggap sebagai mahluk suci yang supernatural memegang kendali dan mempunyai tugas-tugas tertentu. Dalam anutan agama Islam dan Nasrani, Dewa sanggup dianalogikan sebagai malaikat-malaikat yang mempunyai tugasnya masing-masing.

Dewa Tertinggi Agama Hindu

Ada banyak yang kuasa dalam anutan Hindu. Masing-masing yang kuasa mempunyai tugasnya sendiri. Di antara sekian banyak yang kuasa tersebut, ada istilah trimurti. Trimurti merupakan istilah untuk menyebutkan 3 dewa tertinggi agama Hindu yang memegang kuasa penuh terhadap tugas-tugas berat. Ketiga yang kuasa tertinggi agama Hindu tersebut yaitu Dewa Brahma, Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa.

 Konsep ketuhanan dalam agama Hindu mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan konse 3 Dewa Tertinggi Agama Hindu, Trimurti, dan Urutannya

1. Dewa Brahma

Dalam agama Hindu, Dewa Brahma dianggap sebagai manifestasi tuhan dalam hal penciptaan semesta. Dewa Brahma digambarkan mempunyai empat wajah (catur mukha), mempunyai wahana berupa angsa, bersenjatakan gada, dan mempunyai sakti Dewi Saraswati. Keempat wajah Brahma menghadap 4 penjuru mata angin. Dewa ini dilukiskan sebagai sesosok laki-laki renta berjanggut putih yang mempunyai empat buah tangan. Masing-masing tangan salah satu dewa tertinggi agama Hindu ini memegang alat-alat antara lain:
  1. Aksamala atau tasbih yang menyimbol kekekalan yang tiada awal dan tiada akhir.
  2. Sruk dan Surva (sendok besar dan sendok biasa) yang menyimbolkan upacara yadnya.
  3. Kamandalu atau kendi sebagai simbol keabadian.
  4. Pustaka atau buku yang menyimbolkan ilmu pengetahuan.

2. Dewa Wisnu

Dewa tertinggi dalam agama Hindu selanjutnya yaitu Dewa Wisnu. Dewa Wisnu dianggap sebagai yang kuasa pemelihara semesta dan segala ciptaan Dewa Brahma. Dewa Wisnu akan turun ke dunia bila kejahatan merajarela. Dewa Wisnu yaitu yang kuasa berkulit hitam-kebiruan, mempunyai sakti Dewi Sri, beraksara Ung, bersenjatakan Cakra dan berwahanakan Burung Garuda.

3. Dewa Siwa

Dewa tertinggi agama Hindu yang terakhir yaitu Dewa Siwa. Dewa siwa dianggap sebagai yang kuasa pelebur yang akan menghancurkan semua ciptaan brahma yang sudah lama kalau waktunya sudah tiba. Dewa Siwa diwujudkan sebagai seorang yang kuasa bermata tiga (trinetra), memakai ikat pinggang kulit haimau, hiasan leher berupa ular kobra, dan berwahanakan lembu Nandini. Dewa Siwa mempunyai sakti Dewi Durga, bersenjatakan trisula, dan mempunyai 4 oleh-oleh yang masing-masing memegang tri wahyudi, kendi, cemara, dan tasbih.

Dewa-dewa Hindu Lainnya

Selain ketiga yang kuasa tertinggi yang termasuk dalam trimurti, agama Hindu juga meyakini eksistensi beberapa yang kuasa lainnya. Dewa-dewa dalam dogma agama Hindu tersebut antara lain Dewa Chandra (Dewa bulan), Ganesha (Dewa pengetahuan dan kebijaksanaan), Indra (Dewa hujan, Dewa perang), Kuwera (Dewa kekayaan), Laksmi (Dewi kemakmuran, Dewi kesuburan), Maruta (Dewa petir), Saraswati (Dewi pengetahuan), Sri (Dewi pangan), Surya (Dewa matahari), Waruna (Dewa air, laut, dan samudra), Bayu (Dewa angin), Yama (Dewa maut, Dewa akhirat, hakim yang mengadili roh orang mati), dan Kartikeya (Dewa Pembunuh Iblis).

Nah, demikianlah pembahasan mengenai 3 yang kuasa tertinggi agama Hindu beserta penjelasannya. Semoga sanggup menambah wawasan pengetahuan kita dan sanggup menjadi pembanding untuk membuat kerukunan antar umat beragama.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Persamaan Dan Perbedaan Agama Hindu Dan Budha [Lengkap]

Agama Hindu dan Budha ialah 2 agama besar yang muncul secara nyaris bersamaan di kala ke 6 SM di India. Ditinjau dari beberapa aspek, kedua agama ini mempunyai banyak persamaan dan perbedaan. Perbedaan keduanya contohnya terletak pada asal usul, akreditasi dan keyakinan terhadap dewa, eksklusivitas dalam sistem kasta, doktrin terhadap reinkarnasi, serta boleh tidaknya pelaksanaan kurban. Sedangkan, persamaan agama Hindu dan Budha terletak padi sejarah awal perkembangannya, ajarannya sebagai agama Ardhi, perkembangan dan persebarannya, serta pengaruhnya terhadap kehidupan masyarakat Nusantara pada masa silam.

Perbedaan Agama Hindu dan Budha

Perbedaan agama Hindu dan Budha terletak sedikitnya pada 5 aspek. Aspek pertama yait dari asal usulnya. Asal seruan agama Hindu diyakini muncul dari perpaduan kebudayaan bangsa Aria dan bangsa Dravida, sedangkan agama Budha muncul dari hasil pemikiran dan pencerahan yang didapatkan Sidharta Gautama dalam mencari jalan lain untuk menuju kesempurnaan (nirwana).


Selain ditinjau dari asal usulnya, perbedaan agama Hindu dan Budha juga terletak pada akreditasi ajarannya terhadap eksistensi Dewa. Dalam agama Hindu dikenal istilah Trimurti yang berarti 3 tuhan tertinggi agama Hindu yang memegang kendali terhadap kehidupan semesta, sedangkan dalam agama Budha, konsep ke-dewa-an lebih dipinggirkan. Seorang yang menganut agama Budha mengakui Sidharta sebagai guru besar Budha yang sanggup membimbing mereka pada kesempurnaan.

Dalam agama Hindu, dikenal pula Sistem Kasta bagi para pemeluknya. Kehidupan masyarakat Hindu dikelompokkan ke dalam 4 golongan yang didasarkan pada keturunan. Sedangkan dalam agama Budha, sistem ekskulivitas masyarakat pemeluknya tidak berlaku. Ajaran agama Budha menganggap bila semua insan berkedudukan dan mempunyai hak kewajiban yang sama.

Reinkarnasi juga menjadi aspek penting yang membedakan fatwa agama Hindu dan Budha. Dalam fatwa Hindu, kelahiran kembali sehabis kematian  atau reinkarnasi tidak berlaku. Hukuman bagi seorang yang jahat akan didapatkan melalui karma, sedangkan dalam agama Budha, reinkarnasi akan terus berlaku bagi orang yang belum mendapat pencerahan sampai jadinya ia sanggup mencapai nirwana.

Dalam agama Budha, penyembelihan binatang melalui Upacara Korban tidak diperkenankan alasannya ini bertentangan dengan fatwa mereka yang menyatakan bahwa membunuh binatang termasuk perbuatan keji. Ini berbeda dengan konsep fatwa Hindu yang justru menganjurkan untuk melaksanakan upacara kurban di setiap hari-hari besar.

Persamaan Agama Hindu dan Budha

Terlepas dari beberapa perbedaan di atas, agama Hindu dan Budha nyatanya juga mempunyai beberapa kesamaan. Persamaan agama Hindu dan Budha contohnya terletak dari daerah awal kemunculannya. Agama Hindu dan Budha sama-sama berasal dari India dan muncul di masa yang nyaris bersamaan. Keduanya juga merupakan agama Ardhi yang berarti muncul dari kebiasaan masyarakat di bumi tanpa adanya campur tangan dari langit ibarat halnya agama samawi.

Persamaan agama Hindu dan Budha juga terletak pada kebenaran ajarannya. Masing-masing mengajarkan kebenaran dan mengusahakan pembimbingan pada kehidupan insan untuk berjalan di atas panduan hidup yang baik. Meskipun berasal dari India, namun kedua agama ini justru cenderung lebih menyebar ke regional di Asia Timur dan Asia Tenggara. Keduanya juga mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Indonesia di masa silam yang kenyataannya dibuktikan oleh beberapa peninggalan sejarah yang sanggup kita temukan sampai dikala ini.

Nah, demikianlah beberapa persamaan dan perbedaan agama Hindu dan Budha. Mohon maaf bila terdapat kesalahan dan hal yang menyinggung sara. Jika ada masukan atau kritik, silakan gunakan kolom komentar untuk berkomunikasi. Terimakasih.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

Wednesday, February 1, 2017

Rahasia Kerajaan Hindu Tertua Di Indonesia Yang Sebenarnya

Kerajaan Hindu Tertua Di Indonesia - Masuknya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia telah banyak kuat terhadap perubahan politik dan sistem pemerintahan di Nusantara. Beberapa kerajaan muncul dari adanya imbas ini mulai semenjak kala ke 4 Masehi. Informasi mengenai eksistensi kerajaan-kerajaan Hindu di nusantara pada masa silam memang sangat terbatas. Hanya ada beberapa sumber informasi ibarat prasasti dan kabar dari kerajaan-kerajaan negara lain di masa silam.

Kerajaan Hindu Tertua Di Indonesia


 Masuknya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia telah banyak kuat terhadap peruba Rahasia Kerajaan Hindu Tertua Di Indonesia yang Sebenarnya

1. Kerajaan Kutai (abad ke-4 Masehi)

Kerajaan Kutai ialah sebuah kerajaan yang terletak di hulu Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kerajaan ini dianggap sebagai kerajaan Hindu tertua di Indonesia alasannya ialah diperkirakan sudah bangun semenjak kala ke 4 Masehi. Satu-satunya bukti yang menerangkan eksistensi kerajaan ini di masa silam ialah isi 7 prasasti Yupa yang bertuliskan informasi perihal kedermawanan, kejayaan, dan silsilah raja-raja yang memerintah di kerajaan tersebut.

2. Kerajaan Tarumanegara (358–669 Masehi)

Kerajaan Hindu tertua di Indonesia selanjutnya ialah kerajaan Tarumanegara. Kerajaan yang terletak di Jawa Barat dengan sentra pemerintahan di Sundapura (sekarang Bekasi) ini diperkirakan bangun semenjak tahun 358 hingga 669 Masehi. Sumber sejarah yang membuktikan eksistensi kerajaan ini ialah beberapa prasasti yang ditemukan di wilayah yang diperkirakan menjadi area kekuasaan kerajaan ini. Prasasti-prasasti kerajaan Tarumanegara tersebut sanggup Anda pelajari melalui link ini.

 Masuknya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia telah banyak kuat terhadap peruba Rahasia Kerajaan Hindu Tertua Di Indonesia yang Sebenarnya

3. Kerajaan Kalingga (abad ke-6 hingga ke-7 Masehi)

Kerajaan Kalingga ialah sebuah kerajaan Hindu yang muncul sekitar kala ke-6 Masehi di Jawa Tengah. Adapun letak sentra kerajaan ini bekerjsama masih belumlah jelas. Sumber informasi dari China yang menjadi satu-satunya bukti sejarah yang menjelaskan eksistensi kerajaan ini di masa silam juga belum menjelaskan secara detail di mana sentra kekuasaan kerajaan ini berada. Hanya saja, dari asumsi yang berdasar pada informasi China, kerajaan yang dipimpin oleh Ratu Maharani Shima terletak antara kawasan antara Kabupaten Jepara dan Pekalongan.

 Masuknya agama dan kebudayaan Hindu ke Indonesia telah banyak kuat terhadap peruba Rahasia Kerajaan Hindu Tertua Di Indonesia yang Sebenarnya

3. Kerajaan Kanjuruhan (600 Masehi)

Kerajaan Kanjuruhan ialah sebuah kerajaan Hindu yang bangun di Jawa Timur dengan sentra pemerintahannya berada di Kota Malang. Berdasarkan bukti tertulis yang tercantum dalam Prasasti Dinoyo, Kerajaan Kanjuruhan diperkirakan sudah bangun semenjak kala ke-6. Adapun selain prasasti, kerajaan yang dipimpin oleh Raja Gajayana ini juga mempunyai peninggalan sejarah berupa Candi Badut dan Candi Wurung yang ketika ini sanggup kita temui di Kota Malang.

4. Kerajaan Medang (752–1006 Masehi)

Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Hindu ialah sebuah kerajaan yang bangun semenjak kala ke 8 Masehi di Jawa Tengah dan pada kala ke-10berpindah ke Jawa Timur. Raja-raja kerajaan Hindu tertua di Indonesia ini banyak meninggalkan bukti sejarah, baik itu berupa prasasti, maupun candi-candi bercorak Hindu. Kerajaan Medang runtuh di awal kala ke-11 Masehi alasannya ialah imbas masa kejayaan kerajaan Majapahit yang kian merajalela.

5. Kerajaan Kediri (1042-1222 Masehi)

Kerajaan Kediri ialah sebuah kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang bangun di Jawa Timur semenjak tahun 1042-1222. Kerajaan yang dulunya juga dikenal dengan sebutan Kerajaan Panjalu ini mempunyai sentra pemerintahan di kota Daha (Kota Kediri sekarang).

Nah, demikianlah beberapa kerajaan Hindu tertua di Indonesia yang pernah ada di masa silam. Sebetulnya masih ada banyak kerajaan-kerajaan Hindu lainnya yang pernah muncul di Nusantara hanya saja kemunculannya itu ada sesudah kerajaan-kerajaan di atas ada.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com

9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Isi, Dan Gambarnya

Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan besar yang kekuasaannya meliputi lintas samudera. Kerajaan bercorak Budha yang bangkit semenjak kurun ke 6 sampai kurun ke 11 Masehi ini keberadaannya dibuktikan oleh sumber-sumber sejarah ibarat informasi dari China dan beberapa peninggalan prasasti. Berikut ini tim penulis Blog secara khusus akan membahas sumber-sumber sejarah tersebut terutama yang terkait dengan prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya. Silakan disimak!

Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan besar yang kekuasaannya meliputi lintas samudera 9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Isi, dan Gambarnya

1. Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan di Nakhon Si Thammarat, Thailand Selatan. Pahatannya ditulis di kedua sisi. Sisi pertama disebut prasasti ligor A, isinya menjelaskan wacana kegagahan raja Sriwijaya, raja dari segala raja dunia yang telah mendirikan Trisamaya caitya untuk Kajara. Sisi kedua disebut prasasti Ligor B, isinya menjelaskan wacana dukungan gelar Visnu Sesawarimadawimathana pada Sri Maharaja yang berasal dari keluarga Sailendravamsa.

2. Prasasti Palas Pasemah

Prasasti Palas Pasemah ialah sebuah prasasti yang ditemukan di sebuah pinggiran rawa di desa Palas Pasemah, Lampung Selatan, Lampung. Prasasti yang ditulis memakai bahasa Melayu Kuno beraksara Pallawa ini tersusun atas 13 baris kalimat. Isinya menjelaskan wacana kutukan atas orang-orang yang tidak tunduk pada kekuasaan Sriwijaya. Diperkirakan dari bentuk aksaranya, salah satu prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya ini diperkirakan berasal dari kurun ke 7 Masehi.

Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan besar yang kekuasaannya meliputi lintas samudera 9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Isi, dan Gambarnya

3. Prasasti Hujung Langit

Prasasti Hujung Langit ialah prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di desa Haur Kuning, Lampung. Sama ibarat prasasti lainnya, prasasti ini juga ditulis memakai bahasa Melayu Kuno dan karakter Pallawa. Susunan pesan dalam prasasti ini tidak cukup terang sebab tingkat keausan batunya sangat tinggi. Akan tetapi, sesudah diidentifikasi prasasti ini diperkirakan berasal dari tahun 997 Masehi dan isinya menjelaskan wacana dukungan tanah sima.

4. Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ditemukan di pesisir Pulau Bangka sebelah Barat. Prasasti yang ditulis memakai bahasa Melayu Kuno beraksara Pallawa ini ditemukan pada Desember 1892 oleh J.K. van der Meulen. Isinya menjelaskan wacana kutukan bagi siapa saja yang membantah titah dari kekuasaan kemaharajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan besar yang kekuasaannya meliputi lintas samudera 9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Isi, dan Gambarnya

5. Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ialah sekumpulan prasasti yang ditemukan di sekitar bak Telaga Biru, Kelurahan 3 Ilir, Kec. Ilir Timur II, Kota Palembang. Prasasti-prasasti ini berisi wacana kutukan pada mereka yang melaksanakan perbuatan jahat di kedatuan Sriwijaya. Kini, prasasti-prasasti ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

6. Prasasti Kedukan Bukit

Pada tanggal 29 November 1920, M. Batenburg menemukan sebuah kerikil bertulis di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang-Sumatera Selatan. Prasasti berukuran 45 × 80 cm ini ditulis memakai bahasa Melayu Kuno dan karakter Pallawa. Isinya menceritakan bahwa seorang utusan Kerajaan Sriwijaya berjulukan Dapunta Hyang telah mengadakan sidhayarta (perjalanan suci) memakai perahu. Dalam perjalanan yang disertai 2.000 pasukan tersebut, ia telah berhasil menaklukan daerah-daerah lain.  Prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia.

7. Prasasti Talang Tuwo

Di kaki Bukit Seguntang tepian utara Sungai Musi, Louis Constant Westenenk –seorang residen Palembang pada tanggal 17 November 1920 menemukan sebuah prasasti. Prasasti Talang Tuwo –begitu kemudian disebut- ialah sebuah prasasti yang berisi doa-doa dedikasi. Prasasti ini menggambarkan bahwa anutan Budha yang dipakai Sriwijaya pada masa itu ialah anutan Mahayana. Ini dibuktikan dari digunakannya kata-kata khas anutan Budha Mahayana ibarat bodhicitta, vajrasarira, annuttarabhisamyaksamvodhi, dan mahasattva.

Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan besar yang kekuasaannya meliputi lintas samudera 9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Isi, dan Gambarnya

8. Prasasti Leiden

Prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya selanjutnya ialah Prasasti Leiden. Prasasti ini ditulis di sebuah lempeng tembaga dan ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Tamil. Saat ini prasastu Leiden berada di Musium Belanda. Isinya menceritakan hubungan baik antara dinasti Chola dari Tamil dengan dinasti Sailendra dari Sriwijaya, India Selatan.

Kerajaan Sriwijaya ialah kerajaan besar yang kekuasaannya meliputi lintas samudera 9 Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya, Isi, dan Gambarnya

9. Prasasti Karang Birahi

Prasasti Karang Brahi ditemukan oleh Kontrolir L.M. Berkhout pada tahun 1904 di tepian Batang Merangin, Dusun Batu Bersurat, Desa Karang Berahi, Kecamatan Pamenang, Merangin-Jambi. Sama ibarat prasasti Telaga Batu, Prasasti Palas Pasemah, dan Prasasti Kota Kapur, prasasti ini menjelaskan wacana kutukan pada mereka yang berbuat jahat dan tidak setia pada sang Raja Sriwijaya.

Nah, demikianlah isi 9 prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya beserta gambarnya yang berhasil ditemukan sampai ketika ini. Sebetulnya bukti sejarah keberadaan kerajaan Sriwijaya di masa lampau sangat terbatas. Bagi Anda yang mungkin sekarang tinggal di tempat kekuasaan kerajaan Sriwijaya di masa lalu, cobalah untuk lebih jeli lagi melihat batu-batu besar di sekitar lingkungan Anda. Siapa tahu batu-batu itu berisi pahatan karakter pallawa dan dapat menjadi bukti gres peninggalan sejarah kerajaan Sriwijaya dari masa lalu.
Sumber http://kisahasalusul.blogspot.com